Catalyst – Part 1

It’s strange to make this CerPen as second share after Light, because I made this fiction story far before Light in Bahasa [>_<]

But no matter what, I chose to share this one, please lend your time to enjoy the story, and give some constructive comment if you like it. Thanx [^_^]

CATALYST – Part 1

1 Mei 2046,

Sudah 26 tahun berlalu sejak perang dunia ke-3. Bencana global yang hanya berlangsung selama 5 hari tersebut memusnahkan nyaris seluruh makhluk hidup yang ada di bumi. Laboratorium yang selama belasan tahun kubenci malah menjadi penyelamat hidup kami, para peneliti yang dipekerjakan untuk penelitian militer. Namun dalam beberapa belas tahun kedepan kami akan mengembalikannya seperti semula. Bumi yang hijau dengan tumbuh-tumbuhan, bumi yang ramai dengan nyanyian serangga dan kicauan burung, bumi yang asri dengan rantai dan jaring-jaring makanan yang teratur, udara yang bebas untuk kami hirup, air sungai yang aman untuk kami minum, serta tanah yang subur untuk kami tanami. Kami akan memasang pondasi untuk itu semua hari ini dan secara teratur dilanjutkan hingga akhir bulan nanti.

——–oOo———

Negara Akirame membangun laboratorium rahasia Neo Core 1200 m di bawah tanah pulau Hew pada tahun 2004 dan menyempurnakan pengalihan perhatian masyarakat dunia dari proyek tersebut dengan membuat kecelakaan alam buatan di beberapa belahan dunia, gempa bumi buatan yang dilakukan dengan meledakkan patahan dasar laut di area sabuk gempa yang kemudian memicu bencana tsunami skala besar di seluruh negara kepulauan sebagai efek beruntun. Akirame berhasil menyembunyikan kejahatan internasionalnya selama 1,5 dekade hingga akhirnya ilmuwan dari Negara Sairu dan Negara Ponpin membeberkan bukti-bukti ilmiah yang tidak berhasil dilenyapkan oleh Akirame pada tahun 2020. Tidak ada yang bisa membendung kemurkaan negara-negara korban saat itu sehingga kebijakan-kebijakan drastis pun dilaksanakan. Menyerang atau bertahan, hidup atau mati…atau sama-sama mati. Perang nuklir mengakhiri semuanya dalam sekejap.

——–oOo———

22 November 2009

Majelis militer menertawakan Profesor Dhafil ketika mempresentasikan penelitiannya tentang pemecahan selulosa rumput menjadi monosakarida. “oh, sepertinya menarik, kita bisa bersaing rumput dengan para sapi yang kita gembala“.

Profesor hanya tersenyum ketika aku protes kepadanya tentang mengapa ia tidak mencoba membungkam mulut mereka dengan alasan-alasan ilmiah. “Terima kasih Spinx, kalau saja mereka memiliki 10% dari kecerdasanmu aku tidak perlu repot-repot menjelaskannya sejak awal kan? tidak apa-apa, mereka hanya belum melihat apa yang kita lihat, hanya itu masalahnya” kata Profesor sambil mengusap kepalaku yang membuat perasaanku berada di antara kesal dan senang.

Dibandingkan penerimaan mereka atas penelitianku, aku jauh lebih ingin membawamu keluar dari laboratorium ini dan hidup seperti anak-anak lainnya Spinx. Maafkan aku…” sambung Profesor dengan nada suara yang berbeda.

Aku tidak mengerti mengapa Professor meminta maaf, namun aku merasa sepertinya ia merasa sedih ketika mengatakannya, aku tidak mengerti apa yang ia sedihkan dari kehidupanku saat ini.

Aku senang di sini Professor, banyak yang bisa aku pelajari di sini, dan kalian semua di sini” kataku.

Yah, kau benar Spinx…kami juga sangat bersyukur karena kau ada diantara kami” jawab Professor seraya kembali berdiri dan beranjak pergi menuju ruangan laboratoriumnya di ujung koridor sektor C.

[Continue to Catalyst – Part 2…]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s